Kajian Ungkapan Lewotana Molo Go Dore Ditinjau Dari Otonomi Semantik Paul Ricoeur

TUKAN, Pius Bae (2026) Kajian Ungkapan Lewotana Molo Go Dore Ditinjau Dari Otonomi Semantik Paul Ricoeur. Undergraduate thesis, IFTK LEDALERO.

[img] Text
ABSTRAKSI SKRIPSI-PIUS BAE TUKAN (1).pdf

Download (566kB)

Abstract

Penelitian ini mengkaji ungkapan tradisional masyarakat Lamaholot, NTT, yaitu Lewotana Molo Go Dore. Di tengah arus globalisasi dunia dan disrupsi teknologi informasi saat ini, terdapat ancaman berupa kerancuan pemahaman serta penurunan apresiasi generasi muda terhadap nilai-nilai kebudayaan asli daerahnya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menggali, memaknai, dan menafsirkan kembali ungkapan klasik tersebut agar tetap relevan, dapat dihayati, dan menjadi sebuah pedoman etis yang sesuai dengan konteks zaman sekarang. Penelitian ini menggunakan library research yang didukung oleh wawancara mendalam dengan tokoh budaya setempat. Proses analisis dan penafsiran dilakukan menggunakan kerangka Hermeneutika Paul Ricoeur, dengan berfokus pada teori Otonomi Semantik. Teori ini mengkaji otonomi teks rangkap tiga, yakni: otonomi terhadap maksud pengarang asli, otonomi terhadap lingkup kebudayaan asli, dan otonomi terhadap pembaca atau publik asli. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa secara harafiah, Lewotana Molo Go Dore berarti “kampung halaman dahulu, saya mengikuti”, yang secara tradisional dimaknai sebagai permohonan restu dan perlindungan dari leluhur saat masyarakat Lamaholot pergi merantau. Melalui pisau bedah otonomi semantik, ungkapan ini dilepaskan (distansiasi) dari penutur aslinya (tetua adat/leluhur) serta dari konteks ritual masa lalunya yang statis, sehingga menjelma menjadi teks otonom yang hidup dan memiliki surplus makna yang tak terbatas. Di dalam proses apropriasi dan rekontekstualisasi, ungkapan ini ditafsirkan menjadi kompas etika universal di berbagai bidang kehidupan modern. Pada bidang ekologi dan sustainability, ungkapan ini menjadi manifesto perjanjian ekologis eksistensial untuk menolak eksploitasi alam yang tidak bertanggung jawab. Dalam bidang psikologi, ia memproyeksikan dalil kesehatan mental sistemik, di mana ketahanan individu (Go Dore) sangat bergantung pada lingkungan sosial yang suportif dan memanusiakan (Lewotana Molo). Di bidang pendidikan dan politik, ungkapan ini mendekonstruksi budaya feodalisme kepatuhan buta menjadi sebuah kontrak sosial partisipatoris yang kritis. Puncaknya dalam lanskap ekonomi digital, Lewotana Molo Go Dore bertransformasi menjadi manisfesto kedaulatan digital; di mana Lewotana diartikan sebagai ekosistem digital yang inklusif, dan Molo sebagai data dan nilai luhur yang valid (anti hoaks), serta Go Dore sebagai distribusi teknologi yang merata hingga ke akar rumput. Oleh karena itu, penerapan Otonomi Semantik Paul Ricoeur membuktikan bahwa warisan leluhur Lewotana Molo Go Dore bukanlah sekadar korpus bisu atau artefak masa lalu, melainkan sebuah teks dinamis yang terus menciptakan “dunia baru”. Makna dari ungkapan ini tetap beresonansi kuat sebagai fondasi moral bagi masyarakat Lamaholot dalam menghadapi arus modernisasi tanpa harus kehilangan akar identitas budayanya.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Hermeneutika, Lamaholot, Lewotana Molo Go Dore, Otonomi Semantik, Rekontekstualisasi.
Subjects: 300 – Ilmu Sosial > 300 Ilmu sosial > 306 Kultur, ilmu budaya, kebudayaan dan lembaga-lembaga, institusi
Divisions: 75201 Ilmu Filsafat
Depositing User: Maria Yosefina
Date Deposited: 08 May 2026 02:01
Last Modified: 08 May 2026 02:01
URI: http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/4080

Actions (login required)

View Item View Item