Ikatan Cinta dalam Ritus Perkawinan Adat Masyarakat Rubit dalam Terang Familiaris Consortio (No. 18-20

Everianus, TAE (2026) Ikatan Cinta dalam Ritus Perkawinan Adat Masyarakat Rubit dalam Terang Familiaris Consortio (No. 18-20. Undergraduate thesis, IFTK LEDALERO.

[img] Text
EVERIANUS TAE_ABSTRAK.pdf

Download (350kB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menjelaskan ikatan cinta dalam ritus perkawinan adat masyarakat Rubit (2) Menjelaskan ikatan cinta dalam Anjuran Apostolik Familiaris Consortio (3) Menjelaskan ikatan cinta dalam ritus perkawinan adat masyarakat Rubit dalam terang Familiaris Consortio (no 18-20). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan meliputi teknik wawancara dan studi kepustakaan. Sumber data utama penelitian ini adalah ikatan cinta dalaam perkawinan adat masyarakat Rubit, sedangkan data sekunder diperoleh dari buku-buku, jurnal, internet dan manuskrip. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ikatan cinta dalam ritus perkawinan adat masyarakat Rubit tercermin dalam tiga ritus adat berikut: Pertama, Tulung dalang (perkenalan). Istilah adat ini sering diidentikan dengan sir senang berarti mencintai. Sir senang menjadi fondasi awal ketertarikan sejati antara pria dan wanita. Kedua, Poto wua ta'a diri mipin (sirih pinang meminta restu lewat mimpi) dipahami sebagai sarana meminta restu kepada leluhur. Ketiga, Poto wua ta'a gete (sirih pinang campur) mengukuhkan persatuan yang tak terpisahkan melalui upacara wotik wawi waten dengan ungkapan “Gea sai wawi api ara prangang, Dena jaji wai nora la'i” (Makanlah perjamuan ini, lambang janji suami-istri). Proses ini diakhiri dengan pesan adat yang sangat dalam maknanya “Daa blewut ko belung sape boga ko loar” (bersatulah hingga maut memisahkan). Ketiga ritus ini diperkaya oleh simbol simbol yang sarat makna: Wua ta'a bako apur (sirih-pinang, tembakau dan kapur) melambangkan persatuan; tudi manu (pisang dan ayam) mengungkapkan keharmonisan rumah tangga; toa balik bala bahar (perak, perunggu, gading dan emas) menunjukkan kesungguhan membangun masa depan; serta tua, wair, utan patan (tuak, air, sarung dan sembar) sebagai ungkapan penyerahan diri dengan cinta yang tulus. Nilai-nilai ini selaras dengan Familiaris Consortio (no. 18–20) yang memahami perkawinan sebagai ikatan cinta yang sakral dan tak terceraikan. Meskipun demikian, beberapa aspek adat masih membutuhkan perhatian, pendalaman, dan pembaharuan, khususnya menyangkut kesetaraan martabat suami istri, praktik belis yang proporsional, serta kebebasan dalam keputusan untuk saling mencintai, sehingga tradisi adat dan ajaran Gereja dapat saling melengkapi demi terwujudnya perkawinan yang bermakna dan bermartabat.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Ikatan Cinta, Ritus Perkawian Adat, Masyarakat Rubit, Familairis Consortio.
Subjects: 200 – Agama > 260 Teologi sosial dan gerejawi > 261 Teologi sosial
300 – Ilmu Sosial > 390 Adat istiadat, etiket, dan cerita rakyat > 392 Adat istiadat setempat
Divisions: 75201 Ilmu Filsafat
Depositing User: Mr Floribertus Herichis Wanto Tapo
Date Deposited: 10 Mar 2026 01:45
Last Modified: 10 Mar 2026 01:45
URI: http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/3947

Actions (login required)

View Item View Item