SETIAWAN, Florentinus (2026) Ambivalensi Agama-Agama dan Pengurangan Derita. Undergraduate thesis, IFTK LEDALERO.
|
Text
Florentinus Setiawan_ABSTRAK.pdf Download (141kB) |
Abstract
Tulisan ini bertolak dari suatu kenyataan bahwa agama-agama memiliki fenomena yang ambivalen dalam kehidupan bersama. Fenomena ambivalensi agama-agama erat kaitannya dengan agama sebagai system kebudayaan. Sejauh agama terlibat dalam kehidupan politik, ia hadir dalam dua bentuk sisi yang berlawanan. Di satu sisi, agama hadir sebagai sumber makna, pengharapan, pembebasan manusia dari penderitaan; namun di sisi lain, agama juga dapat menjadi sumber konflik, diskriminasi, dan legitimasi kekerasan. Kenyataan ambivalensi agama ini menimbulkan pertanyaan sejauh mana dampak konkret kehadiran agama-agama Berhadapan dengan ambivalensi agama dalam kehidupan bersama, penulis menawarkan etika derita untuk menilai dampak konkret kehadiran agama-agama. Etika derita mendasarkan diri pada penderitaan yang dialami oleh manusia. Titik tolak etika derita adalah penderitaan yang dialami oleh manusia itu sendiri. Etika derita menempatkan pengalaman penderitaan manusia sebagai titik tolak untuk menilai sejauh mana penderitaan bisa menilai kehadiran agama agama. Metode yang digunakan oleh penulis dalam proses penyusunan skripsi ini adalah studi kepustakaan. Dalam proses itu, penulis berusaha untuk menggali lebih jauh dengan membaca dan mendalami buku-buku, jurnal, tesis, internet, dan surat kabar yang berkaitan dengan topik yang dibahas oleh penulis. Penulis berfokus pada ambivalensi agama-agama sebagai masalah dalam tulisan ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemanusian menjadi inti kehadiran agama-agama. Sebab, kemanusian menjadi sesuatu yang universal. Ia tidak terikat oleh ras, budaya, atau kelompok tertentu, melainkan berlaku untuk semua orang. Terhadap kemanusian itu, setiap agama dituntut untuk mengakui dan bertanggung jawab atas kemanusian yang dimiliki oleh setiap orang. Dalam menjaga kemanusian itu, dibutuhkan kerja sama melalui dialog antaragama. Dalam proses dialog, hal pertama-tama yang dilakukan adalah pengakuan akan ambivalensi agama sebagai titik temu dialog antar agama. Pengakuan akan ambivalensi agama mendorong setiap agama berdialog dengan agama lain yang bertolak dari sebuah perbedaan. Pada akhirnya dialog bertujuan untuk membangun perdamaian yang bebas kekerasan sebagai cita-cita universal dari semua agama.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Ambivalensi Agama-Agama, Etika Derita, Agama Sebagai System Kebudayaan, Kemanusian, Dialog Antaragama |
| Subjects: | 200 – Agama > 210 Filsafat dan teori agama > 210 Filsafat dan teori agama |
| Divisions: | 75201 Ilmu Filsafat |
| Depositing User: | Mr Floribertus Herichis Wanto Tapo |
| Date Deposited: | 04 Mar 2026 00:48 |
| Last Modified: | 04 Mar 2026 00:48 |
| URI: | http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/3871 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
