PANGU, Robertus Belarminus (2026) Reinterpretasi Konsep Mata Golo Masyarakat Sebowuli dalam Terang Injil Lukas 13:1-5 dan Implikasinya bagi Karya Pastoral Gereja Lokal. Masters thesis, IFTK LEDALERO.
|
Text
ABSTRAK.pdf Download (675kB) |
|
|
Text
BAB I.pdf Download (328kB) |
|
|
Text
BAB II.pdf Restricted to Registered users only Download (617kB) |
|
|
Text
BAB III.pdf Restricted to Registered users only Download (396kB) |
|
|
Text
BAB IV.pdf Restricted to Registered users only Download (575kB) |
|
|
Text
BAB V-DAFTAR PUSTAKA.pdf Download (296kB) |
|
|
Text
LAMPIRAN.pdf Download (93kB) |
Abstract
Penelitian ini bertujuan untuk (1) melakukan reinterpretasi konsep mata golo berdasarkan Injil Lukas 13:1-5 (2) mendeskripsikan pemahaman dan praktik upacara mata golo dalam masyarakat Desa Sebowuli, (3) mendeskripsikan makna teologis kematian dalam terang Injil Lukas 13:1-5, serta (4) merumuskan implikasinya bagi karya pastoral Gereja lokal. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Objek yang diteliti adalah praktik dan pemahaman masyarakat tentang mata golo di Desa Sebowuli, Kecamatan Inerie, Kabupaten Ngada. Sumber data utama diperoleh melalui penelitian lapangan dengan teknik wawancara mendalam terhadap tokoh adat dan masyarakat yang memiliki pengetahuan tentang ritus mata golo. Sumber data sekunder diperoleh melalui studi kepustakaan, yakni dengan mengkaji literatur yang relevan mengenai ajaran Gereja Katolik tentang kematian, tafsiran eksegetis atas Injil Lukas 13:1-5, serta penelitian-penelitian terdahulu yang berkaitan dengan budaya dan kematian. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa dalam pemahaman masyarakat Sebowuli, mata golo dipandang sebagai kematian tidak wajar yang sarat dengan makna sosial dan religius, serta sering dimaknai sebagai kutukan atau akibat dari kekuatan jahat yang mengganggu keseimbangan hidup. Pandangan ini melahirkan berbagai ritus pemulihan seperti keo rado untuk memutus rantai malapetaka. Namun, dalam terang Injil Lukas 13:1-5, Yesus menolak anggapan bahwa kematian tragis merupakan hukuman atas dosa, dan sebaliknya menegaskan panggilan universal untuk bertobat. Dengan demikian, kematian tidak lagi dilihat sebagai tanda murka Allah, melainkan sebagai kesempatan untuk pembaruan hidup dalam relasi dengan Allah. Oleh sebab itu, reinterpretasi konsep mata golo perlu dilakukan dalam terang iman Kristiani. Penulis menawarkan beberapa implikasi pastoral yang transformatif: (1) pembinaan iman umat yang menekankan pemahaman kematian sebagai misteri kasih Allah, bukan kutukan, (2) pengembangan model pastoral inkulturatif yang menghargai nilai-nilai budaya lokal tanpa kehilangan inti ajaran iman, (3) pendampingan pastoral yang dialogis dalam menghadapi peristiwa kematian tidak wajar, dan (4) penguatan spiritualitas harapan akan kebangkitan sebagai dasar iman Kristiani. Dengan demikian, dialog antara iman dan budaya dapat melahirkan pemahaman baru yang lebih membebaskan dan meneguhkan iman umat dalam menghadapi realitas kematian.
| Item Type: | Thesis (Masters) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Mata Golo, Kematian Tidak Wajar, Injil Lukas 13:1-5, Reinterpretasi Teologis, Inkulturasi, Pastoral Gereja |
| Subjects: | 200 – Agama > 220 Alkitab > 225 Perjanjian Baru 300 – Ilmu Sosial > 390 Adat istiadat, etiket, dan cerita rakyat > 392 Adat istiadat setempat |
| Divisions: | 77101 Ilmu Agama/Teologi Katolik |
| Depositing User: | Mr Floribertus Herichis Wanto Tapo |
| Date Deposited: | 02 Oct 2026 02:11 |
| Last Modified: | 02 Oct 2026 02:11 |
| URI: | http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/4523 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
