Kenosis sebagai Sekularisasi: Telaah Pemikiran Gianni Vattimo dan Kemungkinan Ber-teologi Publik dalam Konteks Indonesia

HAYONG, Bernardus Subang Kenosis sebagai Sekularisasi: Telaah Pemikiran Gianni Vattimo dan Kemungkinan Ber-teologi Publik dalam Konteks Indonesia. In: Teologi Publik untuk Konteks Indonesia. Penerbit Ledalero, Ledalero, pp. 120-139.

[img] Text
teologi publuk untuk konteks indonesia.pdf
Restricted to Registered users only

Download (420kB)

Abstract

Paradigma beragama tidak hanya berurusan dengan ritualisme spiritual, tetapi ia juga diperkaya dengan relasi antara iman dan akal. Clemens dari Alexandria (150-215), misalnya, beranggapan bahwa iman tidak dapat diperdalam tanpa filsafat. Ketakutan terhadap filsafat disamakannya dengan sikap membungkus seorang bayi karena takut dibimbing secara salah (Stromata IV, ch.10, no. 80-81). Mempertimbangkan pertalian antara iman (teologi) dan akal (filsafat) merupakan satu gerakan untuk mengaktualkan peran agama dalam konteks sosio-budaya masyarakat. Beberapa filsuf postmodernisme memandang bahwa agama tidak lagi menjadi ranah privat tetapi berperan di area publik. Jürgen Habermas misalnya, mengumandangkan peran agama dalam masyarakat post- sekular. Nilai-nilai khas agama dapat diterjemahkan ke dalam nalar publik dan dipraktikkan secara demokratis. Gerakan untuk melebarkan praktik dan penghayatan agama dari ranah privat ke ruang publik menandai satu model pembaruan struktural teologi. Konsep tentang peran agama di ranah publik dapat dimaknai sebagai upaya untuk menafsir gagasan ketuhanan yang terlalu absolut-transendental dan mengantarnya pada hal konkrit kemanusiaan. Hal yang sama juga ditemukan dalam konsep filosofis Gianni Vattimo. Ia melihat titik temu antara ide religius dalam iman Katolik dengan praktik cinta kemanusiaan. Bagi Vattimo, agama itu proyek emansipatif dan humanisasi. Konsep ditemukan dalam interpretasi Vattimo terhadap Wahyu Allah dalam teks Perjanjian Baru (Filipi 2: 1-11) sebagai “sekularisasi” keilahian Allah. Vattimo menggagas kenosis sebagai cara Allah melepaskan kebenaran absolut Diri-Nya dan merendah sebagai manusia. Inilah proses humanisasi Allah (praktik cinta) untuk bisa berdialog dengan manusia dalam situasi manusia. Pemikiran kritis-hermeneutis Vattimo kiranya cukup aktual untuk ‘membongkar’ kecenderungan berpikir dogmatis-religius dalam konteks masyarakat Indonesia yang multi-agama. Karena itu, artikel ini bermaksud untuk menganalisa sejauh mana re-interpretasi kenosis sebagai sekularisasi menjadi model berteologi publik di Indonesia. Ada tiga gagasan utama yang dikaji: Pertama, pengaruh konsep filosofis Vattimo. Kedua, gagasan pensiero debole (pemikiran yang lemah) dan urgensi re-interpretasi dogma. Ketiga, etika caritas (belas kasih) sebagai paradigma berteologi publik dalam konteks beragama di Indonesia.

Item Type: Book Section
Subjects: 100 - Filsafat dan Psikologi > 100 Filsafat > 101 Teori filsafat
200 – Agama > 260 Teologi sosial dan gerejawi > 260 Teologi sosial dan eklesiastik Kristen
Divisions: 75101 Filsafat
Depositing User: Bernardus Subang Hayong
Date Deposited: 31 Aug 2026 04:26
Last Modified: 31 Aug 2026 04:26
URI: http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/4367

Actions (login required)

View Item View Item