LAMANEPA, Yeremias Dagan (2026) Perbandingan Makna Nama sebagai Altar Perjamuan dalam Masyarakat Wulublolong dan Makna Altar Ekaristi. Undergraduate thesis, IFTK LEDALERO.
|
Text
Yeremias Dagan Lamanepa-ABSTRAK.pdf Download (158kB) |
Abstract
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kekayaan budaya masyarakat Wulublolong yang masih mempertahankan tradisi Nama sebagai bagian penting dalam kehidupan religius dan sosial masyarakat. Nama dipahami sebagai tempat sakral yang digunakan untuk ritual adat, perjamuan bersama, persembahan sesajian, serta penghormatan kepada leluhur dan Wujud Tertinggi. Di sisi lain, dalam Gereja Katolik altar Ekaristi memiliki makna sebagai meja Perjamuan Tuhan dan tempat kurban Kristus dihadirkan dalam Perayaan Ekaristi. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna Nama dalam masyarakat Wulublolong serta membandingkannya dengan makna altar Ekaristi dalam Gereja Katolik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kepustakaan dengan pendekatan analisis deskriptif-kualitatif. Penulis menggunakan sumber-sumber tertulis berupa buku, jurnal, dokumen Gereja, serta wawancara dengan tokoh adat dan masyarakat Wulublolong guna memperoleh data yang mendukung penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nama memiliki makna religius, sosial, dan budaya yang sangat mendalam. Nama berfungsi sebagai altar perjamuan, tempat sesajian, simbol persekutuan masyarakat, dan altar kurban persembahan. Tradisi yang dilakukan di sekitar Nama mengandung nilai persaudaraan, solidaritas, penghormatan terhadap leluhur, dan rasa syukur kepada Wujud Tertinggi. Sementara itu, altar Ekaristi dalam Gereja Katolik dipahami sebagai pusat liturgi, tempat kurban Kristus dihadirkan kembali, serta lambang persatuan umat beriman dalam Kristus. Perbandingan antara Nama dan altar Ekaristi menunjukkan adanya persamaan dan perbedaan. Persamaannya terletak pada fungsi keduanya sebagai tempat perjamuan, tempat berkumpulnya umat atau masyarakat, serta simbol relasi manusia dengan Yang Ilahi. Sedangkan perbedaannya terletak pada dasar iman dan makna teologisnya. Nama berakar pada tradisi adat dan penghormatan terhadap leluhur, sedangkan altar Ekaristi berakar pada misteri keselamatan Kristus dalam iman Katolik. Penelitian ini menegaskan bahwa budaya lokal memiliki nilai-nilai luhur yang dapat dipahami secara positif dalam terang iman Kristiani. Oleh karena itu, Gereja diharapkan terus membangun dialog dengan budaya lokal melalui semangat inkulturasi agar nilai-nilai budaya yang baik tetap dihargai dan dilestarikan.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Nama, altar, perjamuan, Ekaristi, budaya Wulublolong, inkulturasi. |
| Subjects: | 200 – Agama > 200 Agama > 204 Pengalaman religius, kehidupan dan praktik 300 – Ilmu Sosial > 390 Adat istiadat, etiket, dan cerita rakyat > 392 Adat istiadat setempat |
| Divisions: | 75101 Filsafat |
| Depositing User: | Mr Floribertus Herichis Wanto Tapo |
| Date Deposited: | 02 Jun 2026 05:14 |
| Last Modified: | 02 Jun 2026 05:14 |
| URI: | http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/4282 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
