Analisis Makna Pire Dalam Ritual Nggua Ria Masyarakat Wologai Dalam Terang Kejadian 2:15

DETU, Ferdinandus Hilarius (2026) Analisis Makna Pire Dalam Ritual Nggua Ria Masyarakat Wologai Dalam Terang Kejadian 2:15. Undergraduate thesis, IFTK LEDALERO.

[img] Text
ABSTRAK.pdf

Download (815kB)
[img] Text
BAB I.pdf

Download (242kB)
[img] Text
BAB II.pdf
Restricted to Registered users only

Download (307kB)
[img] Text
BAB III.pdf
Restricted to Registered users only

Download (268kB)
[img] Text
BAB IV.pdf
Restricted to Registered users only

Download (304kB)
[img] Text
BAB V.pdf

Download (125kB)
[img] Text
DAFTAR PUSTAKA.pdf

Download (209kB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh krisis ekologi global yang ditandai oleh eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan dan kehilangan rasa hormat manusia terhadap alam di era modern. Di tengah situasi ini, masyarakat adat Wologai di Kabupaten Ende memiliki tradisi pire (larangan adat) yang mengandung nilai pelestarian lingkungan, namun saat ini masyarakat cenderung menjalankannya hanya sebagai rutinitas atau ritual tanpa memahami makna di baliknya. Penelitian ini bertujuan menjelaskan hubungan makna pire dalam masyarakat Wologai dengan mandat biblis dalam Kejadian 2:15 untuk menumbuhkan tanggung jawab iman terhadap lingkungan hidup. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Data dikumpulkan melalui metode studi pustaka dengan analisis literatur terkait, artikel, dokumen Gereja, dan Alkitab, serta melalui wawancara mendalam dengan para tokoh adat (mosalaki), kepala desa, dan warga setempat di Desa Wologai Tengah. Analisis dilakukan secara eksegetis terhadap teks Kejadian 2:15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pire merupakan bagian dari ritual nggua ria yang berpuncak pada masa larangan (pire) selama tujuh hari, di mana aktivitas manusia seperti menyalakan api, menebang pohon, dan mengolah tanah dihentikan sepenuhnya untuk memberi waktu istirahat bagi tanah sebagai bentuk menjaga atau memelihara alam (tana watu). Secara teologis, istilah “memelihara” (shamar) dalam Kejadian 2:15 memberikan landasan kuat bagi ungkapan tana watu yang mengubah persepsi tradisi pire tersebut dari sekadar aturan leluhur menjadi mandat budaya dan tanggung jawab iman kepada Tuhan sebagai Sang Pencipta. Tradisi ini mengandung nilai spiritual (penghormatan pada wujud tertinggi Du’a Ngga’e), nilai persatuan (solidaritas sosial), dan nilai moral (pengendalian diri terhadap alam). Kesimpulan dari penelitian ini, penulis menyimpulkan bahwa terdapat keselarasan antara mandat biblis dalam Kejadian 2:15 dengan tradisi pire masyarakat Wologai. Keduanya menempatkan manusia sebagai penjaga atau mitra Allah, bukan pemilik mutlak, yang bertanggung jawab atas keberlanjutan ciptaan. Tradisi pire terbukti menjadi kontribusi nyata dalam pelestarian alam berbasis iman dan budaya, di mana penjagaan terhadap keharmonisan alam dipahami sebagai bentuk ketaatan moral dan ungkapan syukur kepada Sang Pencipta.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: Larangan adat (pire nggua), memelihara, tanggung jawab iman, pada Kejadian 2:15, dan masyarakat adat Wologai
Subjects: 300 – Ilmu Sosial > 300 Ilmu sosial > 306 Kultur, ilmu budaya, kebudayaan dan lembaga-lembaga, institusi
Divisions: 75201 Ilmu Filsafat
Depositing User: Maria Yosefina
Date Deposited: 12 May 2026 02:42
Last Modified: 02 Sep 2026 01:31
URI: http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/4213

Actions (login required)

View Item View Item