SYUKUR, Lorensius (2026) Tradisi Dedang Dalam Perspektif Mulieris Dignitatem dan Relevansinya Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Para Penenun Di Desa Barang. Undergraduate thesis, IFTK Ledalero.
|
Text
ABSTRAKSI (1).pdf Download (210kB) |
Abstract
Tradisi dedang (menenun) di Desa Barang merupakan pilar fundamental identitas budaya masyarakat Manggarai yang secara khas menempatkan perempuan sebagai aktor sentral dalam pelestarian dan transmisi warisan leluhur lintas generasi. Di tengah konstruksi sosial patriarkal yang kerap melabeli perempuan sebagai ata pe’ang (orang luar), praktik menenun justru menghadirkan ruang kultural sekaligus eksistensial bagi perempuan untuk menegaskan martabat, identitas, dan peran strategisnya dalam struktur sosial. Penelitian ini berangkat dari adanya kesenjangan dalam studi sebelumnya yang cenderung berfokus pada dimensi ekonomi dan teknis produksi, tanpa memberikan perhatian memadai pada dimensi teologis, khususnya dalam terang ajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tradisi dedang berdasarkan perspektif martabat perempuan dalam Mulieris Dignitatem, sekaligus menelaah relevansi dan implikasinya terhadap kehidupan sosial dan budaya para penenun di Desa Barang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan yang diperkaya melalui wawancara mendalam dengan para penenun dan tokoh adat sebagai subjek utama. Teknik pengumpulan data meliputi kajian dokumen Gereja, literatur antropologi, serta data empiris lapangan, yang kemudian dianalisis secara sistematis melalui pendekatan kritik teologis dan sintesis konseptual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi dedang merepresentasikan feminine genius (genius kewanitaan) melalui nilai-nilai kesabaran, ketekunan, kreativitas, dan ketahanan, sekaligus menjadi sarana transformasi identitas perempuan dari posisi marginal menuju peran sentral sebagai penjaga kesinambungan simbolik dalam ritus adat Manggarai. Tanpa kehadiran kain songke hasil karya perempuan, ritus adat kehilangan kedalaman makna simboliknya. Selain itu, dedang juga memberikan kontribusi signifikan terhadap kemandirian ekonomi serta memperkuat solidaritas sosial (communio personarum) antarperempuan. Dengan demikian, tradisi ini menunjukkan keselarasan substansial dengan semangat Mulieris Dignitatem, di mana aktivitas menenun dimaknai sebagai bentuk perutusan yang mencerminkan penyerahan diri yang tulus dan kreatif, sejalan dengan spiritualitas ketaatan Maria. Temuan ini menegaskan pentingnya integrasi antara nilai budaya lokal dan refleksi teologis dalam upaya pemberdayaan perempuan serta pengembangan praksis inkulturasi Gereja lokal yang kontekstual dan berkelanjutan.
| Item Type: | Thesis (Undergraduate) |
|---|---|
| Uncontrolled Keywords: | Tradisi dedang, Perempuan penenun, Martabat perempuan, Mulieris Dignitatem, Desa Barang |
| Subjects: | 300 – Ilmu Sosial > 300 Ilmu sosial > 306 Kultur, ilmu budaya, kebudayaan dan lembaga-lembaga, institusi |
| Divisions: | 75201 Ilmu Filsafat |
| Depositing User: | Maria Yosefina |
| Date Deposited: | 06 May 2026 04:12 |
| Last Modified: | 06 May 2026 04:12 |
| URI: | http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/4132 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
