Politisasi Agama Dan Pengaruh Negatifnya Terhadap Politik Sebagai Ruang ‘Di-Antara’ Manusia Menurut Hannah Arendt

HADUT, Aventinus Darmawan (2025) Politisasi Agama Dan Pengaruh Negatifnya Terhadap Politik Sebagai Ruang ‘Di-Antara’ Manusia Menurut Hannah Arendt. Undergraduate thesis, IFTK LEDALERO.

[img] Text
AVEN HADUT REPOSITORY_ABSTRAK.pdf

Download (95kB)

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk membahas dampak negatif politisasi agama terhadap politik. Menurut penulis, politisasi agama ini merupakan suatu bentuk aneksasi agama sebagai ruang privat terhadap politik sebagai ruang publik. Hal ini memberikan pengaruh negatif terhadap politik. Tulisan ini ditinjau berdasarkan perspektif politik Hannah Arendt. Politik, bagi Arendt, merupakan ruang ‘di-antara’ manusia yang terbentuk atas tindakan dan pembicaraan manusia secara bersama. Politik sebagai ruang ‘di-antara’ manusia sangat menekankan beberapa aspek di dalamnya. Hal tersebut mencakup penghargaan terhadap pluralitas manusia, sifat tidak dapat diprediksi dari politik, dan kekuasaan. Metode penulisan yang digunakan dalam karya ilmiah ini adalah deskriptif-kualitatif. Penulis mencari berbagai referensi yang bersesuaian dengan topik yang dibahas. Sumber-sumber tersebut dibaca dan dipilah sesuai dengan poin-poin dari tulisan ini. Hasil pembahasan tulisan ini menunjukkan bahwa politisasi memberikan pengaruh negatif terhadap politik. Politisasi agama menghilangkan aspek penghargaan akan pluralitas, sifat tidak dapat diprediksi, dan kekuasaan dari politik sebagai ruang ‘di-antara’ manusia. Politisasi agama menghilangkan penghargaan pluralitas dalam politik karena politik mendasarkan kebijakannya pada ajaran agama tertentu. Dengan itu, keberagaman keyakinan akan diabaikan. Politisasi agama juga mengakibatkan kehilangan sifat tidak dapat diprediksi dari politik. Dengan politisasi agama, arah dan tujuan politik diatur berdasarkan ajaran agama tertentu. Politik seperti ini akan berujung pada diskriminasi terhadap mereka yang berbeda dan mencapai suatu kepentingan tertentu dari mereka yang ajaran agamanya terwadahi dalam politik. Kecuali itu, politisasi agama menimbulkan lenyapnya kekuasaan dari politik. Politik sebagai ruang kebersamaan manusia untuk mencapai kesepakatan bersama menjadi hilang karena doktrin agama menutupi ruang perdebatan. Argumentasi rasional tidak dimungkinkan dan yang muncul dalam kebersamaan itu hanyalah kepentingan agama tertentu. Oleh karena itu, penulis menegaskan bahwa agama mesti dipisahkan dari politik dan membatasi wilayah dari keduanya. Hal ini juga ditegaskan oleh Hannah Arendt. Arendt menyatakan bahwa hilangnya batasan antara ruang privat dengan ruang publik berimplikasi pada pergeseran makna dari kedua ranah tersebut. Dengan aneksasi kedua ranah tersebut, kebebasan yang sejatinya melekat pada ruang publik digantikan dengan suatu model penguasaan sebagaimana dalam kehidupan privat dalam keluarga. Karena itu, penegasan dan pemisahan batas ranah privat dengan ranah publik sangat urgen. Dengan pembatasan demikian, politik tidak kehilangan aspek-aspek penting di dalamnya dan agama juga tidak dijadikan instrumen untuk mencapai kepentingan politik tertentu. Penulis menyimpulkan bahwa politisasi agama memberikan dampak negatif terhadap politik sebagai ruang ‘di-antara’ manusia. Karena itu, agama dan politik mesti dipisahkan satu sama lain agar kedua wilayahnya masing-masing dapat terjaga dengan baik.

Item Type: Thesis (Undergraduate)
Uncontrolled Keywords: politisasi agama, Islam, politik, politik Hannah Arendt, ruang ‘di-antara’ manusia
Subjects: 100 - Filsafat dan Psikologi > 100 Filsafat > 101 Teori filsafat
Divisions: 75201 Ilmu Filsafat
Depositing User: Mauritsius Moat Pitang
Date Deposited: 27 Mar 2025 11:25
Last Modified: 27 Mar 2025 11:25
URI: http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/2737

Actions (login required)

View Item View Item