Hendaklah Kamu Murah Hati - Renungan Inspiratif Minggu Biasa ke 7, 20 Februari 2022

RAHO, Bernard (2022) Hendaklah Kamu Murah Hati - Renungan Inspiratif Minggu Biasa ke 7, 20 Februari 2022. [Video]

[img] Video (Hendaklah Kamu Murah Hati - Renungan Inspiratif Minggu Biasa ke 7, 20 Februari 2022)
maxresdefault.jpg - Published Version

Download (175kB)

Abstract

HENDAKLAH KAMU MURAH HATI SEPERTI BAPAMU DI SURGA Pada waktu Abraham Lincoln berkampanye untuk menjadi Presiden Amerika Serikat ada seorang lawan politiknya yang selalu menyerang pelbagai kelemahan Lincoln. Namanya adalah Edwin Stanton. Tidak jarang Stanton menyerang Lincoln dalam soal-soal yang bersifat pribadi. Ketika Lincoln terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat yang ke 16, ia malah memilih Edwin Stanton sebagai Menteri Pertahanan. Orang-orang dekat Presiden Lincoln mengingatkan: “Tuan Presiden, Anda melakukan kesalahan besar karena memilih Stanton untuk jabatan yang begitu penting. Dia adalah musuh Tuan yang selalu menjelek-jelekkan Tuan selama masa kampanye.” Tetapi dengan enteng saja Lincoln menjawab: “Ya, saya tahu semua hal terburuk yang dia katakan tentang saya. Tetapi demi kepentingan negara, ia adalah orang yang paling tepat untuk jabatan Menteri Pertahanan”. Stanton membuktikan hal itu dengan menjadi Menteri Pertahanan terbaik pada masa itu. Dia memberikan pengabdian yang luar biasa kepada negara dan presidennya. Ketika Presiden Abraham Lincoln mati terbunuh, banyak hal baik yang dikatakan tentangnya. Tetapi pujian yang luar biasa datang dari Stanton. Sambil berdiri di samping jenasah Mendiang Presiden Lincoln, Edwin Stanton memujinya sebagai orang terbesar yang pernah dilahirkan. Dengan penuh rasa haru ia berkata tentang orang yang pernah dibencinya itu: “Sekarang ini ia telah menjadi milik sejarah”. Dengan kekuatan cinta, Lincoln telah berhasil mengubah seorang musuh menjadi seorang sahabat. Inilah kekuatan cinta yang menyelamatkan. ******** Dalam Injil hari ini Yesus mengajarkan murid-murid-Nya: “Kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu . . . Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. . . Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada orang-orang yang membenci kamu”. Perkataan-perkataan atau nasehat-nasehat Yesus untuk mencintai musuh dan mendoakan orang yang membenci kita bertentangan dengan hukum balas dendam di dalam Perjanjian Lama di mana orang boleh melalukan pembalasan mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Ajaran Yesus ini merupakan bagian yang paling sulit dari seluruh ajaran-Nya tentang Cintakasih. Keluarga-keluarga yang menjadi korban dari para pelaku bom bunuh diri pasti sulit sekali bisa memaafkan, apa lagi, mencintai orang-oorang se[eerti itu. Tetapi justru di sinilah letaknya keilahian cinta Kristiani. Di sinilah letak ujian dari cinta yang sejati menurut Yesus Kristus, yakni mencintai semua orang tanpa syarat baik kawan maupun lawan. Mencintai seseorang dengan cinta seperti itu tidaklah juga mustahil. Yesus sendiri telah melakukannya dengan mengmpuni orang-orang yang menyalibkanNya. St. Stefanus, sebelum meninggal, mendoakan orang-orang yang merajamnya: “Ya, Bapa, ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”. Yesus mengajarkan kita untuk tidak membatasi cinta kita hanya kepada orang-orang yang kita kenal, orang-orang yang seagama atau satu suku dengan kita, orang-orang yang mempunyai hubungan darah dengan kita, atau teman-teman dan sahabat kita. Cinta yang demikian tidak mempunyai nilai tambah. “Kalau kamu mengasihi orang-orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut pajak juga berbuat demikian. Dan kalau kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnyadari perbuautan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” (Mat 5:46-47). ********* Dunia kita dewasa ini ditandai oleh perpecahan dan konflik. Konflik itu terjadi antara individu dan individu, individu dan kelompok, atau kelompok dengan kelompok. Konflik itu bisa terjadi di lingkungan kerja, rumah tangga, dan masyarakat. Karena itu sikap saling memaafkan dan mengampuni menjadi sangat penting. Apa lagi setiap kali mendoakan Doa Bapa Kami, kita berdoa: “Ampunilah kami seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami”. Itu berarti bahwa kita akan diampuni, kalau kita juga rela mengampuni orang lain. Tugas ini memang tidak gampang, Dengan kekuatan sendiri kita barang kali tidak mampu. Karena itu hendaknya kita selalu berdoa: “Tuhan anugerahkanlah kepada kami kemampuan untuk bisa mengambpuni orang-orang yang telah bersalah kepada kami. Tuhan memberkati. Amen.

Item Type: Video
Uncontrolled Keywords: Renungan, Katolik, Inspirasi, Minggu, Khotbah
Subjects: 200 – Agama > 200 Agama > 202 Ajaran
Divisions: 77101 Ilmu Agama/Teologi Katolik
Depositing User: Bernardus Raho
Date Deposited: 13 Mar 2024 00:03
Last Modified: 13 Mar 2024 00:44
URI: http://repository.iftkledalero.ac.id/id/eprint/2096

Actions (login required)

View Item View Item